TUGAS
SOFTSKILL
PENGETAHUAN
LINGKUNGAN

Oleh:
GANDHANG
ANOM WIDAKDO
33413645
JURUSAN
TEKNIK INDUSTRI
FAKULTAS
TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS
GUNADARMA
DEPOK
2016
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Semakin
berkembangnya teknologi yang semakin hari semakin canggih terutama untuk gadget
membuat pekerjaan manusia semakin mudah, manusia jadi lebih mudah mencari dan
bertukar informasi di dunia, dari segi politik dan ekonomi. Berkembangnya
teknologi pada gadget terutama dari akun media sosial masyarakat bisa menemukan
apa yang di cari sebagai contoh mencari destinasi wisata.
Dewasa ini tidak
dipungkiri pariwisata di Indonesia maju sangat pesat bersaing dengan dunia fashion, banyak masyarakat yang
berlomba-lomba mencari tempat wisata di dunia maya menggunakan akun pribadi
mereka, tidak jarang banyak para wisatawan yang rela mengeluarkan biaya yang
cukup besar dan merelakan waktu yang cukup lama untuk mendatangi tempat wisata
terutama wisata alam demi memanjakan mata atau hanya sekedar mengabadikan
gambar dengan kamera saja. Banyaknya wisata yang mendatangi tempat wisata alam
didukung pula dengan agen travel yang sudah banyak ditemukan dimana-mana
sebagai contoh penyedia jasa guide atau
porter yang cukup professional.
Berkembangnya pariwisata
alam seperti ini memanglah cukup menguntungkan bagi pengelolanya tetapi
tentunya ada kerugian pula yang dihasilkan. Sebagai contoh banyak para
wisatawan yang tidak bertanggung jawab dengan sampah yang dibawanya dengan
membuang sampah sembarangan yang tentunya menjadi pencemaran lingkungan
ditempat wisata alam dan tidak nyaman di pandang mata. Sebagai contoh aktivitas
wisata alam yang sedang naik daun di Indonesia adalah mendaki gunung.
Mendaki gunung memang
memiliki sensasi tersendiri bagi pariwisata namun mendaki gunung merupakan
aktivitas yang cukup berbahaya bagi seorang pemula, baik itu cuaca yang mudah
berubah bahkan serangan binatang liar. Banyak ilmu dasar yang harus diketahui seorang
pendaki gunung sebelum mendaki gunung. Sekarang ini pendakian gunung di
Indonesia menjadi magnet pariwisata yang sangat di gandrungi baik oleh
masyarakat lokal sampai turis mancanegara, namun kebersihan yang didapatkan
tidak sebanding dengan apa yang diharapkan, bisa dilihat sampah begitu banyak
berserakan dan semakin hari semakin memenuhi area di sepanjang jalur pendakian
di indonesia. Tentu saja hal ini merusak ekosistem alam yang ada serta
menyingkirkan satwa liar yang ada di sana
1.2 Perumusan Masalah
Perumusan masalah
merupakan permasalahan-permasalahan yang dibahas pada penulisan ini. Perumusan
masalah membahas cara mengurangi pencemaran lingkungan yang dihasilkan oleh
sampah di tempat wisata alam terutama di gunung.
Memberikan penyuluhan
edukasi bagi wisatawan atau pendaki gunung tentang bahaya pencemaran lingkungan
karena sampah terhadap ekosistem alam.
1.3 Tujuan Penulisan
Tujuan
penulisan merupakan
hal-hal yang ingin dicapai dalam penulisan tentang pengetahuan lingkungan.
1. Mampu
mencegah pembuangan sampah secara sembarangan di tempat wisata alam
2. Mengurangi
sampah yang dihasilkan oleh para wisatawan.
BAB II
LANDASAN TEORI
A. SAMPAH
DAN PENGELOLAANNYA
Sampah adalah suatu bahan atau benda padat
yang sudah tidak dipakai lagi oleh manusia, atau benda padat yang sudah tidak
digunakan lagi dalam suatu kegiatan manusia dan dibuang. Para ahli kesehatan
masyarakat Amerika membuat batasan, sampah (waste) adalah sesuatu yang tidak
digunakan, tidak dipakai, tidak disenangi, atau sesuatu yang dibuang, yang
berasal dari kegiatan manusia, dan tidak terjadi dengan sendirinya.
Dari batasan ini jelas bahwa sampah adalah
merupakan hasil suatu kegiatan manusia yang dibuang karena sudah tidak berguna.
Sehingga bukan semua benda padat yang tidak digunakan dan dibuang disebut
sampah, misalnya : benda-benda alam, benda-benda yang keluar dari bumi akibat
gunung meletus, banjir,pohon di hutan yang tumbang akibat angin rebut, dan
sebagainya. Dengan demikian sampah mengandung prinsip-prinsip sebagai berikut :
·
Adanya
sesuatu benda atau bahan padat.
·
Adanya
hubungan langsung atau tak langsung dengan kegiatan manusia.
·
Benda
atau bahan tersebut tidak dipakai lagi.
SYSTEM PENGOLAHAN SAMPAH
1. Teknologi Tepat Guna (TTG)
Teknologi Tepat Guna adalah teknologi yang
memiliki kriteria ekonomis, teknis, ergonomis, sosiobudaya, hemat energi, dan
melindungi lingkungan. Ekonomis adalah sesuai dengan kebutuhan dan
mempertimbangkan skala prioritas. Teknis adalah mudah diaplikasikan di
lapangan. Ergonomis maksudnya adalah mengikuti prinsip ergonomi. Sosiobudaya
mencakup kebiasaan yang ada. Hemat energi berarti memberikan kontribusi pada pengembangan
berkelanjutan. Sedangkan melindungi lingkungan berarti tidak memberikan dampak
negatif pada lingkungan.
2. Sustainability, Siklus
Biogeokimiawi dan Carrying Capacity
Sustainability adalah keberlanjutan sistem kehidupan
yang berjalan secara sinambung. Siklus biogeokomiawi merupakan proses biologi,
geologi, dan kimia yang berkaitan dengan materi. Sampah adalah materi yang
merupakan Sumber Daya Alam. Menurut hukum kekekalan materi, maka materi tak ada
habisnya, mengalir dari suatu bagian ke bagian lain dan dari dunia hidup ke tak
hidup serta kembali ke dunia hidup.
Materi pada sampah dapat berupa unsur kimia
seperti C (karbon), H (hidrogen), O (oksigen), N
(nitrogen), dan S (Sulfur). Sustainability dan Siklus
biogeokimiawi yang berjalan dengan baik akan memberikan daya dukung lingkungan
(carrying capacity) yang baik pula pada kehidupan
manusia.Carrying capacity merupakan kemampuan lingkungan untuk
mendukung kehidupan populasi yang salah satunya adalah manusia. TTG (Teknologi
Tepat Guna) pada manajemen/ pengelolaan sampah yang dirumuskan, selain
didasarkan pada 6 kriteria TTG pada ergonomi total, perumusannya juga harus
mengacu pada sustainability, siklus biogeokimiawi, dan daya dukung
lingkungan. TTG (Teknologi Tepat Guna) ini merupakan salah satu solusi
saja untuk mengatasi masalah sampah.
B. SUMBER
-SUMBER SAMPAH
1. Sampah yang berasal dari
pemukiman (domestic wastes)
Sampah ini terdiri dari bahan-bahan padat
sebagai hasil kegiatan rumah tangga yang sudah dipakai dan dibuang, seperti
sisa-sisa makanan baik yang sudah dimasak atau belum, bekas pembukus, baik itu
kertas, plastic, daun dan sebagainya, pakaian-pakaian bekas, bahan-bahan
bacaan, perabot rumah tangga, daun-daunan dari kebun atau taman.
2. Sampah yang berasal dari
tempat-tempat umum
Sampah ini berasal dari tempat-tempat umum,
seperti pasar, tempat-tempat hiburan, terminal bus, stasiun kereta api, dan
sebagainya.
Sampah ini berupa : kertas, plastic, botol,
daun, dan sebagainya.
3. Sampah yang berasal dari
perkantoran
Sampah ini dari perkantoran baik perkantoran
pendidikan, perdagangan, departemen, perusahaan, dan sebagainya. Sampah ini
berupa kertas-kertas, plastic, karbon, klip, dan sebagainya. Umumnya sampah ini
bersifat kering dan mudah terbakar (rabbish).
4. Sampah yang berasal dari jalan
raya
Sampah ini berasal dari pembersihan jalan,
yang umunya terdiri dari kertas-kertas, kardus-kardus, debu, batuan-batuan,
pasir, sobekan ban, onderdil-onderdil kendaraan yang jatuh, daun-daunan,
plastic, dan sebagainya.
5. Sampah yang berasal dari
industri (industrial wastes)
Sampah ini berasal dari kawasan industri,
termasuk sampah yang berasal dari pembangunan industri dan segala sampah yang
berasal dari proses produksi, misalnya : sampah-sampah pengepakan barang,
logam, plastic, kayu, potongan tekstil, kaleng, dan sebagainya.
6. Sampah yang berasal
dari pertanian atau perkebunan
Sampah ini sebagai dari perkebunan atu
pertanian, misalnya : jerami, sisa sayur-mayur, batang padi, batang jagung,
ranting kayu yang patah, dan sebagainya.
7. Sampah yang berasal dari
pertambangan
Sampah ini berasal dari daerah pertambangan,
dan jenisnya tergantungdari jenis usaha pertambangan itu sendiri, misalnya :
batu-batuan, tanah/cadas, pasir, sisa-sisa pembakaran (arang), dan sebagainya.
8. Sampah yang berasal dari
peternakan dan perikanan
Sampah yang berasal dari peternakan dan
perikanan ini berupa : kotoran-kotoran ternak, sisa-sisa makanan, bangkai
binatang, dan sebagainya.
C. JENIS-JENIS
SAMPAH
Kalau
kita berbicara sampah, sebenarnya meliputi 2 jenis sampah :
1. Sampah padat
Sampah padat dapat dibagi menjadi berbagai
jenis, yaitu:
Berdasarkan zat kimia yang terkandung di
dalamnya, sampah dibagi menjadi:
1. Sampah an-organik adalah sampah
yang umumnya tidak dapat membusuk, misalnya : logam/besi, pecahan gelas,
plastic dan sebagainya,
2. Sampah organic adalah sampah
yang pada umumnya dapat membusuk, misalnya : sisa-sisa makanan, daun-daunan,
buah-buahan, dan sebagainya.
1. Sampah yang mudah terbakar,
misalnya : kertas, karet, kayu, plastic, kain bekas, dan lain-lain.
2. Sampah yang tidak dapat
terbakar, misalnya : kaleng-kaleng bekas, besi/logam bekas, pecahan gelas, kaca
dan sebagainya.
1. Garbage adalah jenis sampah
hasil pengolahan atau pembuatan makanan yang umumnya mudah membusuk dan berasal
dari rumah tangga, restoran, hotel, dan sebagainya.
2. Rabish adalah sampah yang
berasal dari perkantoran, perdagangan, baik yang mudah terbakar seperti kertas,
karton, plastic, maupun yang tidak mudah terbakar, seperti kaleng bekas, klip,
pecahan kaca, gelas dan sebagainya.
3. Ashes (abu) yaitu sisa
pembakaran dari bahan-bahan yang mudahg ter baker termasuk abu rokok.
4. Sampah jalanan (street
sweeping) yaitu sampah yang berasal dari pembersihan jalan, yang terdiri dari
campuran bermacam-macam sampah, daun-daunan, plastic, besi, debu dan
sebagainya.
5. Sampah industri, yaitu sampah
yang berasal dari industri atau pabrik-pabrik.
6. Bangkai binatang (dead animal)
yaitu bangkai binatang yang mati karena alam, ditabrak kendaraan, atau dibuang
oleh orang.
7. Bangkai kendaraan (abandoned
vehicle) yaitu bangkai mobil, sepeda, sepeda motor, dan lain-lain.
8. Sampah pembangunan
(construction waste) yaitu sampah dari proses pembangunan gedung dan
sebagainya, yang berupa puing-puing, potongan-potongan kayu, besi beton bambu
dan lain-lain.
2. Sampah cair (Air
Limbah)
Air limbah atau air buangan adalah sisa air
yang dibuang yang berasal dari rumah tangga, industri maupun tempat-tempat umum
lainnya, dan pada umumnya mengandung bahan-bahan atau zat-zat yang dapat
membahayakan bagi kesehatan manusia serta mengganggu lingkungan hidup. Batasan
lain mengatakan bahwa air limbah adalah kombinasi dari cairan dan sampah cair
yang berasal dari daerah pemukiman, perdagangan, perkantoran dan industri
bersama-sama dengan air tanah, air permukaan dan air hujan yang mungkin ada.
Dari batasan tersebut dapat disimpulkan bahwa
air buangan adalah air yang tersisa dari kegiatan manusia, baik kegiatan rumah
tangga maupun kegiatan lain, seperti industri, perhotelan, da sebagainya.
Meskipun merupakan air sisa, namun volumenya besar, karena kurang lebih 80%
dari air yang digunakan bagi kegiatan manusia sehari-hari tersebut dibuang lagi
dalam bentuk yang sudah kotor (tercemar). Selanjutnya air limbah ini akhirnya
akan mengalir ke sungai dan laut dan akan digunakan oleh manusia lagi. Oleh
sebab itu, air buangan ini harus dikelola atau diolah secara baik.
Air limbah ini berasal dari berbagai sumber,
dapat dikelompokkan menjadi :
Air buangan kotapraja (municipal wastes
water), yaitu air buangan yang berasal dari daerah : perkantoran, perdagangan,
hotel, restoran, tempat-tempat umum, tempat-tempat ibadah, dan sebagainya. Pada
umumnya zat-zat yang terkandung dalam jenis air limbah ini sama dengan air
limbah rumah tangga.
a. Karakteristik Air Limbah
Karakteristik air limbah perlu dikenal,
karena hal ini akan menentukan cara pengolahan yang tepat. Sehingga tidak
mencemari lingkungan hidup. Secara garis besar karakteristik air limbah ini
digolongkan sebagai berikut :
Sebagian besar terdiri dari air dan sebagian
kecil terdiri dari bahan-bahan padat dan suspensi. Terutama air limbah rumah
tangga, biasanya berwarna suram seperti larutan sabun, sedikt berbau.
Kadang-kadang mengandung sisa-sisa kertas, berwarna bekas cucian beras dan
sayur, bagian-bagian tinja, dan sebagainya.
2. Karakteristik
Kimiawi
Biasanya air buangan ini mengandung campuran
zat-zat kimia an-organik yang berasal dari air bersih serta bermacam-macam zat
organic berasal dari penguraian tinja, urine, dan sampah-sampah lainnya. Oleh
sebab itu, pada umumnya bersifat basah pada waktu masih baru, dan cenderung ke
asam apabila sudah mulai membusuk. Substansi organic dalam air buangan terdiri
dari 2 gabungan, yaitu :
Kandungan bakteri pathogen serta organisme
coli terdapat juga dalam air limbah, tergantung dari mana sumbernya, namun
keduanya tidak berperan dalam proses pengolahan air buangan.
b. Cara Pengolahan Air Limbah
secara Sederhana
Pengolahan
air limbah dimaksudkan untuk melindungi lingkungan hidup terhadap pencemaran
air limbah tersebut. Secara ilmiah sebenarnya lingkungan mempunyai daya dukung
yang cukup besar terhadap gangguan yang timbul karena pencemaran air limbah
tersebut. Namun demikian, alam tersebut mempunyai kemampuan yang terbatas dalam
daya dukungnya, sehingga air limbah perlu diolah sebelum dibuang.
Beberapa cara sederhana pengolahan air limbah
antara lain :
Air limbah diencerkan sampai mencapai
konsentrasi yang cukup rendah, kemudian baru dibuang ke badan-badan air.
Tetapi, dengan makin bertambahnya penduduk, yang berarti makin meningkatnya
kegiatan manusia, maka jumlah air limbah yang harus dibuang terlalu banyak, dan
diperlukan air pengebceran terlalu banyak pula, maka cara ini tidak dapat
dipertahankan lagi. Di samping itu, ini menimbulkan kerugian lain, di antaranya
: bahaya kontamonasi terhadap badan-badan air masih tetap ada, pengendapan yang
akhirnya menimbulkan pendangkalan terhadap badan-badan air, seperti : selokan,
sungai, danau. Selanjutnya dapat menimbulkan banjir.
Pada prinsipnya pengolahan ini adalah
pemanfaatan sinar matahari, ganggang (algae), bakteri dan oksigan dalam proses
pembersihan alamiah. Air limbah di\alirkna ke dalam kolam besar berbentuk segi
empat dengan kedalaman antara 1 – 2 m. dinding dan dasar kolam tidak perlu
diberi lapisan apapun. Lokasi kolam harus jauh dari daerah pemukiman, dan di
daerah yang terbuka, sehingga memungkinkan sirkulasi angin dengan baik.
D. PENGELOLAAN
SAMPAH
Sampah erat kaitanya dengan kesehatan
masyarakat, karena dari sampah-sampah tersebut akan hidup berbagai mikro
organisme penyebab penyakit (bacteri pathogen), dan juga binatang serangga
sebagai pemindah/penyebar penyakit (vector). Oleh sebab itu, sampah harus
dikelola dengan baik sampai sekecil mungkin tidak mengganggu atau mengancam
kesehatan masyarakat. Pengelolaan sampah yang baik, bukan saja untuk
kepentingan kesehatan saja, tetapi juga untuk keindahan lingkungan. Yang
dimaksud dengan pengelolaan sampah di sini adalah meliputi pengumpulan,
pengangkutan, sampai dengan pemusnahan atau pengolahan sampah sedemikian rupa
sehingga sampah tidak menjadi gangguan kesehatan masyarakat dan lingkungan
hidup.
Pengelolaan sampah didefinisikan sebagai
kontrol terhadap timbulan sampah, pewadahan, pengumpulan, pemindahan dan
pengangkutan, proses pembuangan akhir sampah, di mana semua hal tersebut
dikaitkan dengan prinsip – prinsip terbaik untuk kesehatan, ekonomi,
keteknikan/ engineering, konservasi, estetika, lingkungan, juga
terhadap sikap masyarakat
SHIP (Sistemik, Holistik, Interdisipliner,
Holistik)
SHIP berarti bahwa setiap pemecahan masalah
dianalisa dengan cara bersistem, melibatkan berbagai sistem yang terkait secara
bersama – sama atau holistik, memanfaatkan berbagai ilmu/ disiplin yang
terlibat dan harus ada partisipasi sejak fase perencanaan dari seluruh stakeholder yang
ada.
Eksplorasi kondisi eksisting manajemen/
pengelolaan sampah harus mencakup keseluruhan aspek yang ada, karena manajemen/
pengelolaan sampah yang ada saat ini hanya dipahami secara parsial, yaitu
sebatas urusan memindahkan, membuang, memusnahkan, dan belum mengoptimalkan
potensi daur ulang sampah, sehingga akhirnya dapat mengakibatkan hilangnya
jaminan keselamatan serta keamanan hidup manusia diberbagai daerah. Eksplorasi
kondisi eksisting disini merupakan bagian yang sangat vital, karena akan
menjadi dasar dalam merancang manajemen/ pengelolaan sampah yang sesuai dengan
kondisi di lapangan.
Cara-cara pengelolaan sampah antara lain
sebagai berikut :
1. Pengumpulan dan
Pengangkutan Sampah
Pengumpulan sampah adalah menjadi tanggung
jawab dari masing-masing rumah tangga atau institusi yang menghasilkan sampah. Oleh
sebab itu, mereka ini harus membangun dan mengadakan tempat khusus untuk
mengumpulkan sampah. Kemudian dari masing-masing tempat pengumpulan sampah
tersebut harus diangkut ke Tempat Penampungan Sementara (TPS) sampah, dan
selanjutnya ke Tempat Penampungan Akhir (TPA). Mekanisme, sistem atau cara
pengangkutannya untuk daerah perkotaan adalah tanggung jawab pemerintah daerah
setempat, yang didukung oleh partisipasi masyarakat produksi sampah, khususnya
dalam hal pendanaan.
Sedangkan untuk daerah pedesaan pada umumnya
sampah dapat dikelola oleh masing-masing keluarg, tanpa memerlukan TPS maupun
TPA. Sampah rumah tangga daerah pedesaan umumnya didaur ulang menjadi pupuk.
2. Pemusnahan dan Pengolahan
Sampah
Pemusnahan atau pengolahan sampah padat
dilakukan melalui berbagai cara, antara lain :
a. Ditanam (Landfill)
yaitu pemusnahan sampah dengan membuat lubang
di tanah kemudian sampah dimasukkan dan ditimbun dengan tanah. Prinsip dari sanitary Landfill
(pengurugan tanah dengan sampah secara sehat) ialah sampah yang telah ditimbun
kemudian segera diurug dengan lapisan tanah yang padat setebal 30 cm. Tanah
urug betul-betul padat dan minimum tebal 30 cm agar tempayak tak dapat menembus
lapisan tanah urug.
b. Dibakar (Inceneration)
yaitu memusnahkan sampah dengan cara dibakar
di dalam tungku pembakaran (incinerator). Pelaksanaan metode ini
harus diusahakan sejauh mungkin dari pemukiman demi menghindari
pencemaran udara. Hasil dari pembakaran ini menghasilkan dioksin, yaitu ratusan
jenis kimia berbahaya seperti CDF ( chlorined dibenzo furan ), CDD (
chlorined dibenzo-p-dioxin ) dan PCB ( poly chlorinated byphenil) . Jika
senyawa ini tidak dapat terurai maka akan terhirup oleh makhluk hidup dan akan
mengendap dalam tubuh , yang pada kadar tertentu akan mengakibatkan kanker.
c. Dijadikan pupuk
(Composting)
Yaitu pengolahan sampah menjadi pupuk
(kompos), khususnya untuk sampah organic daun-daunan, sisa makanan dan sampah
lain yang mudah membusuk. Di daerah pedesaan hal ini sudah biasa dilakukan,
sedangkan di daerah perkotaan hal ini perlu dibudayakan. Apabila setiap rumah
tangga dibiasakan untuk memisahkan sampah organic dengan an-organik, kemudian
sampah organic diolah menjafi pupuk tanaman, dapat dijual dan dipakai sendiri.
Sedangkan untuk sampah an-organik dapat
dibuang dan akan segera dipungut oleh para pemulung. Dengan demikian maka
masalan sampah akan berkurang.
Penanganan
sampah adalah bukan semata - mata tugas pemerintah. Jadi pengelolaan sampah
harus ditangani ke pendekatan sumber sampah tersebut diatas. Pendekatan
secara umum bisa dilakukan dengan prinsip 4 R yang bisa
diterapkan dalam keseharian di lingkup terkecil, yakni :
E. SAMPAH
DAN HUBUNGANNYA DENGAN KESEHATAN
1. Pekerja-pekerja
sampah
Perbandingan kesehatan dan kematian antara
pekerja-pekerja yang bergumul dengan smpah den pekerja-pekerja lainnya adalah
sama. Jadi, secara langsung sampah tidak membahayakan kesehatan jasmaniah.
2. Keindahan
Bila di sekitar kita ada timbunan sampah apalagi
yang sudah lama tertimbun, maka keindahan di tempat tersebut akan lenyap dan
rasa tak sedap dipandang oleh mata. Karena iru janganlah ada timbunan sampah.
Sampah yang lama tertimbun mengeluarkan gas racun dan bau busuk. Mungkin banyak
sisa-sisa daging dan ini membahayakan lingkungan.
3. Lalat dan Tikus,
serta Binatang-Binatang lainnya
Di tempat sampah akan terdapat banyak lalat,
selain mencari makan, lalat ini akan bertelur pula. Kita ketahui lalat adalah
salah satu vekor penyebar penyakit-penyakit perut. Tikus gemar sekali bersarang
di tempat-tempat timbunan sampah, apalagi sampah yang tak pernah diangkut.
Tikus juga mencari makan di tempat sampah dan sekaligus tikus penyebar penyakit
Pes. Ayam, kucing, anjing, dan lain-lain, kerap mendatangi tempat sampah untuk
mencari makan. Sampah jadi berserakan yang dapat memuakkan pandangan.
BAB
III
PEMBAHASAN
3.1 Cara Mengurangi Pencemaran Lingkungan di
Tempat Wisata Alam
Masalah Sampah
ditempat wiasata alam terutama dalam pendakian menjadi alasan klasik yang sulit
diatasi. Jumlah pendaki yang semakin meningkat justru menambah jumlah sampah
yang berada digunung. Sampah yang dihasilkan oleh pendaki rata-rata adalah
sampah non organik atau sampah plastik yang sulit di urai oleh tanah contoh
salah satu contoh gunung yang mulai terkena pencemaran oleh sampah adalah
semeru tepatnya di danau ranukumbolo, banyak sampah yang ditinggalkan
berserakan dimana bahkan ada yang membuangnya di sumber mata air danau
ranukumbolo, tidak saja membuang sampah tapi banyak pendaki yang menggunakan
danau ranu kumbolo sebagai tempat MCK tentu saja fenomena itu tidak dianjurkan
sama sekali karena ranu kumbolo merupakan sumber air minum untuk para pendaki
terutama satwa liar yang ada di semeru, bayangkan apa yang akan terjadi apabila
danau ranu kumbolo sudah tercemar oleh sampah dan limbah. Data balai taman
nasional bromo tengger semeru menunjukan setiap pengunjung membuang sekitar 0,5
kg sampah di gunung semeru, padahal setiap hari gunung semeru dikunjungi 200
hingga 500 pendaki. Artinya di gunung semeru ada sekitar 250 kg sampah per hari
menurut humas balai besar taman nasional bromo tengger semeru.
Beberapa solusi pernah
diluncurkan untuk mengatasi permasalah sampah tersebut. Diantaranya adalah
mengecek perbekalan tim sebelum mendaki kemudian memeriksanya kembali ketika
turun namun cara ini tidak efektif karena kurangnya pegawai pemeriksaan di
taman nasional yang tidak sebanding dengan jumlah pendaki yang melakukan
pendakian.
Kedua
membatasi kuota pendakian setiap gunung setiap harinya, cara ini sedikit
efektif namun tetap saja masih banyak sampah yang berserakan di area pendakian
karena kurangnya pengawasan dari petugas taman nasional. Kuota pendakian juga
masih terlalu banyak lebih dari anggka 100 pendaki perharinya, belum lagi ada
pendaki liar yang membuka jalur pendakian sendiri .
Membuat
tempat sampah yang berada disetiap jalur pendakian, namun cara ini tidak
efektif karena tempat sampah yang ada tidak cukup menampung sampah pendaki
tentunya malah membuat pendaki membuang sampah diatas gunung. serta minimnya
petugas taman nasional yang mengangkut sampah pendaki.
Menurut saya sendiri
seharusnya setiap pendakian harus di dampingi oleh guide atau porter yang berpengalaman
yang disediakan oleh taman nasional, guide
atau porter ini selain membantu
untuk penunjuk jalan dan membawa perbekalan pendaki tetapi berguna juga untuk
mengontrol dan mengawasi setiap sampah yang dihasilkan oleh pendaki terutama
untuk pendakian massal.
Menaikan
biaya simaksi pendakian, memang pendakian gunung-gunung di Indonesia ini
terbilang sangat murah kecuali untuk pendakian cartenz pyramid yang membutuhkan
peralatan yang berbeda. Mendaki gunung menjadi alternative liburan bagi
wisatawan ketika hari libur telah tiba.
Terpenting
adalah tanggung jawab akan sampah yang dibawanya dan sadar untuk tidak membuang
sampah dimanapun berada, karena yang harus membawa sampah turun dari gunung
adalah mereka yang membawanya naik. Tanpa sadar akan tanggung jawab saya rasa
apapun langkah yang dilakukan untuk mengurangi pencemaran lingkungan karena
sampah adalah mustahil.
DAFTAR PUSTAKA
Soekidjo Notoatmodjo, Prof. Dr : Ilmu
Kesehatan Masyarakat dan Prinsip-Prinsip Dasar, PT. Rineka Cipta,
Jakarta, 1997.
Daroyni, S. Longsornya TPA Bantar
Gebang, Buruknya Manajemen Sampah, DKI Jakarta, Rakyat
Selalu Dikorbankan, 2006 . http://www..walhi.or.id/kampanye/cemar/sampah/060908_smph-dki-jkt_sp/
Trihadiningrum, Y. dkk, Program
Pelatihan Sistem Pengelolaan Sampah. Makalah Pelatihan. Jurusan Teknik
Lingkungan ITS. Surabaya. 2002.