Rabu, 22 Juni 2016


TUGAS SOFTSKILL
PENGETAHUAN LINGKUNGAN


Description: Gundarlogo


Oleh:
GANDHANG ANOM WIDAKDO
33413645





JURUSAN TEKNIK INDUSTRI
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS GUNADARMA
DEPOK

2016

BAB I
PENDAHULUAN

1.1     Latar Belakang
          Semakin berkembangnya teknologi yang semakin hari semakin canggih terutama untuk gadget membuat pekerjaan manusia semakin mudah, manusia jadi lebih mudah mencari dan bertukar informasi di dunia, dari segi politik dan ekonomi. Berkembangnya teknologi pada gadget terutama dari akun media sosial masyarakat bisa menemukan apa yang di cari sebagai contoh mencari destinasi wisata.
Dewasa ini tidak dipungkiri pariwisata di Indonesia maju sangat pesat bersaing dengan dunia fashion, banyak masyarakat yang berlomba-lomba mencari tempat wisata di dunia maya menggunakan akun pribadi mereka, tidak jarang banyak para wisatawan yang rela mengeluarkan biaya yang cukup besar dan merelakan waktu yang cukup lama untuk mendatangi tempat wisata terutama wisata alam demi memanjakan mata atau hanya sekedar mengabadikan gambar dengan kamera saja. Banyaknya wisata yang mendatangi tempat wisata alam didukung pula dengan agen travel yang sudah banyak ditemukan dimana-mana sebagai contoh penyedia jasa guide atau porter yang cukup professional.
Berkembangnya pariwisata alam seperti ini memanglah cukup menguntungkan bagi pengelolanya tetapi tentunya ada kerugian pula yang dihasilkan. Sebagai contoh banyak para wisatawan yang tidak bertanggung jawab dengan sampah yang dibawanya dengan membuang sampah sembarangan yang tentunya menjadi pencemaran lingkungan ditempat wisata alam dan tidak nyaman di pandang mata. Sebagai contoh aktivitas wisata alam yang sedang naik daun di Indonesia adalah mendaki gunung.
Mendaki gunung memang memiliki sensasi tersendiri bagi pariwisata namun mendaki gunung merupakan aktivitas yang cukup berbahaya bagi seorang pemula, baik itu cuaca yang mudah berubah bahkan serangan binatang liar. Banyak ilmu dasar yang harus diketahui seorang pendaki gunung sebelum mendaki gunung. Sekarang ini pendakian gunung di Indonesia menjadi magnet pariwisata yang sangat di gandrungi baik oleh masyarakat lokal sampai turis mancanegara, namun kebersihan yang didapatkan tidak sebanding dengan apa yang diharapkan, bisa dilihat sampah begitu banyak berserakan dan semakin hari semakin memenuhi area di sepanjang jalur pendakian di indonesia. Tentu saja hal ini merusak ekosistem alam yang ada serta menyingkirkan satwa liar yang ada di sana
             
1.2     Perumusan Masalah
Perumusan masalah merupakan permasalahan-permasalahan yang dibahas pada penulisan ini. Perumusan masalah membahas cara mengurangi pencemaran lingkungan yang dihasilkan oleh sampah di tempat wisata alam terutama di gunung.
Memberikan penyuluhan edukasi bagi wisatawan atau pendaki gunung tentang bahaya pencemaran lingkungan karena sampah terhadap ekosistem alam.

1.3     Tujuan Penulisan
            Tujuan penulisan merupakan hal-hal yang ingin dicapai dalam penulisan tentang pengetahuan lingkungan.
1.  Mampu mencegah pembuangan sampah secara sembarangan di tempat wisata alam
2.  Mengurangi sampah yang dihasilkan oleh para wisatawan.

BAB II
LANDASAN TEORI

A.       SAMPAH DAN PENGELOLAANNYA
Sampah adalah suatu bahan atau benda padat yang sudah tidak dipakai lagi oleh manusia, atau benda padat yang sudah tidak digunakan lagi dalam suatu kegiatan manusia dan dibuang. Para ahli kesehatan masyarakat Amerika membuat batasan, sampah (waste) adalah sesuatu yang tidak digunakan, tidak dipakai, tidak disenangi, atau sesuatu yang dibuang, yang berasal dari kegiatan manusia, dan tidak terjadi dengan sendirinya.
Dari batasan ini jelas bahwa sampah adalah merupakan hasil suatu kegiatan manusia yang dibuang karena sudah tidak berguna. Sehingga bukan semua benda padat yang tidak digunakan dan dibuang disebut sampah, misalnya : benda-benda alam, benda-benda yang keluar dari bumi akibat gunung meletus, banjir,pohon di hutan yang tumbang akibat angin rebut, dan sebagainya. Dengan demikian sampah mengandung prinsip-prinsip sebagai berikut :
·                     Adanya sesuatu benda atau bahan padat.
·                     Adanya hubungan langsung atau tak langsung dengan kegiatan manusia.
·                     Benda atau bahan tersebut tidak dipakai lagi.

SYSTEM PENGOLAHAN SAMPAH
1.    Teknologi Tepat Guna (TTG)
Teknologi Tepat Guna adalah teknologi yang memiliki kriteria ekonomis, teknis, ergonomis, sosiobudaya, hemat energi, dan melindungi lingkungan. Ekonomis adalah sesuai dengan kebutuhan dan mempertimbangkan skala prioritas. Teknis adalah mudah diaplikasikan di lapangan. Ergonomis maksudnya adalah mengikuti prinsip ergonomi. Sosiobudaya mencakup kebiasaan yang ada. Hemat energi berarti memberikan kontribusi pada pengembangan berkelanjutan. Sedangkan melindungi lingkungan berarti tidak memberikan dampak negatif pada lingkungan.
2.    Sustainability, Siklus Biogeokimiawi dan Carrying Capacity
              Sustainability adalah keberlanjutan sistem kehidupan yang berjalan secara sinambung. Siklus biogeokomiawi merupakan proses biologi, geologi, dan kimia yang berkaitan dengan materi. Sampah adalah materi yang merupakan Sumber Daya Alam. Menurut hukum kekekalan materi, maka materi tak ada habisnya, mengalir dari suatu bagian ke bagian lain dan dari dunia hidup ke tak hidup serta kembali ke dunia hidup.
         Materi pada sampah dapat berupa unsur kimia seperti C (karbon), H (hidrogen), O (oksigen), N (nitrogen), dan S (Sulfur). Sustainability dan Siklus biogeokimiawi yang berjalan dengan baik akan memberikan daya dukung lingkungan (carrying capacity) yang baik pula pada kehidupan manusia.Carrying capacity merupakan kemampuan lingkungan untuk mendukung kehidupan populasi yang salah satunya adalah manusia. TTG (Teknologi Tepat Guna) pada manajemen/ pengelolaan sampah yang dirumuskan, selain didasarkan pada 6 kriteria TTG pada ergonomi total, perumusannya juga harus mengacu pada sustainability, siklus biogeokimiawi, dan daya dukung lingkungan.  TTG (Teknologi Tepat Guna) ini merupakan salah satu solusi saja untuk mengatasi masalah sampah.

B.       SUMBER -SUMBER SAMPAH
1.    Sampah yang berasal dari pemukiman (domestic wastes)
Sampah ini terdiri dari bahan-bahan padat sebagai hasil kegiatan rumah tangga yang sudah dipakai dan dibuang, seperti sisa-sisa makanan baik yang sudah dimasak atau belum, bekas pembukus, baik itu kertas, plastic, daun dan sebagainya, pakaian-pakaian bekas, bahan-bahan bacaan, perabot rumah tangga, daun-daunan dari kebun atau taman.
2.    Sampah yang berasal dari tempat-tempat umum
Sampah ini berasal dari tempat-tempat umum, seperti pasar, tempat-tempat hiburan, terminal bus, stasiun kereta api, dan sebagainya.
Sampah ini berupa : kertas, plastic, botol, daun, dan sebagainya.
3.    Sampah yang berasal dari perkantoran
Sampah ini dari perkantoran baik perkantoran pendidikan, perdagangan, departemen, perusahaan, dan sebagainya. Sampah ini berupa kertas-kertas, plastic, karbon, klip, dan sebagainya. Umumnya sampah ini bersifat kering dan mudah terbakar (rabbish).
4.    Sampah yang berasal dari jalan raya
Sampah ini berasal dari pembersihan jalan, yang umunya terdiri dari kertas-kertas, kardus-kardus, debu, batuan-batuan, pasir, sobekan ban, onderdil-onderdil kendaraan yang jatuh, daun-daunan, plastic, dan sebagainya.
5.    Sampah yang berasal dari industri (industrial wastes)
Sampah ini berasal dari kawasan industri, termasuk sampah yang berasal dari pembangunan industri dan segala sampah yang berasal dari proses produksi, misalnya : sampah-sampah pengepakan barang, logam, plastic, kayu, potongan tekstil, kaleng, dan sebagainya.
6.    Sampah yang berasal dari pertanian atau perkebunan
Sampah ini sebagai dari perkebunan atu pertanian, misalnya : jerami, sisa sayur-mayur, batang padi, batang jagung, ranting kayu yang patah, dan sebagainya.
7.    Sampah yang berasal dari pertambangan
Sampah ini berasal dari daerah pertambangan, dan jenisnya tergantungdari jenis usaha pertambangan itu sendiri, misalnya : batu-batuan, tanah/cadas, pasir, sisa-sisa pembakaran (arang), dan sebagainya.
8.    Sampah yang berasal dari peternakan dan perikanan
Sampah yang berasal dari peternakan dan perikanan ini berupa : kotoran-kotoran ternak, sisa-sisa makanan, bangkai binatang, dan sebagainya.

C.       JENIS-JENIS SAMPAH
         Kalau kita berbicara sampah, sebenarnya meliputi 2 jenis sampah :
1.    Sampah padat
Sampah padat dapat dibagi menjadi berbagai jenis, yaitu:
Berdasarkan zat kimia yang terkandung di dalamnya, sampah dibagi menjadi:
1.  Sampah an-organik adalah sampah yang umumnya tidak dapat membusuk, misalnya : logam/besi, pecahan gelas, plastic dan sebagainya,

2.  Sampah organic adalah sampah yang pada umumnya dapat membusuk, misalnya : sisa-sisa makanan, daun-daunan, buah-buahan, dan sebagainya.

            Berdasarkan dapat dan tidaknya dibakar
1.  Sampah yang mudah terbakar, misalnya : kertas, karet, kayu, plastic, kain bekas, dan lain-lain.
2.  Sampah yang tidak dapat terbakar, misalnya : kaleng-kaleng bekas, besi/logam bekas, pecahan gelas, kaca dan sebagainya.

            Berdasarkan karakteristik sampah
1.  Garbage adalah jenis sampah hasil pengolahan atau pembuatan makanan yang umumnya mudah membusuk dan berasal dari rumah tangga, restoran, hotel, dan sebagainya.
2.  Rabish adalah sampah yang berasal dari perkantoran, perdagangan, baik yang mudah terbakar seperti kertas, karton, plastic, maupun yang tidak mudah terbakar, seperti kaleng bekas, klip, pecahan kaca, gelas dan sebagainya.
3.  Ashes (abu) yaitu sisa pembakaran dari bahan-bahan yang mudahg ter baker termasuk abu rokok.
4.  Sampah jalanan (street sweeping) yaitu sampah yang berasal dari pembersihan jalan, yang terdiri dari campuran bermacam-macam sampah, daun-daunan, plastic, besi, debu dan sebagainya.
5.  Sampah industri, yaitu sampah yang berasal dari industri atau pabrik-pabrik.
6.  Bangkai binatang (dead animal) yaitu bangkai binatang yang mati karena alam, ditabrak kendaraan, atau dibuang oleh orang.
7.  Bangkai kendaraan (abandoned vehicle) yaitu bangkai mobil, sepeda, sepeda motor, dan lain-lain.
8.  Sampah pembangunan (construction waste) yaitu sampah dari proses pembangunan gedung dan sebagainya, yang berupa puing-puing, potongan-potongan kayu, besi beton bambu dan lain-lain.

2.    Sampah cair (Air Limbah)
Air limbah atau air buangan adalah sisa air yang dibuang yang berasal dari rumah tangga, industri maupun tempat-tempat umum lainnya, dan pada umumnya mengandung bahan-bahan atau zat-zat yang dapat membahayakan bagi kesehatan manusia serta mengganggu lingkungan hidup. Batasan lain mengatakan bahwa air limbah adalah kombinasi dari cairan dan sampah cair yang berasal dari daerah pemukiman, perdagangan, perkantoran dan industri bersama-sama dengan air tanah, air permukaan dan air hujan yang mungkin ada.
Dari batasan tersebut dapat disimpulkan bahwa air buangan adalah air yang tersisa dari kegiatan manusia, baik kegiatan rumah tangga maupun kegiatan lain, seperti industri, perhotelan, da sebagainya. Meskipun merupakan air sisa, namun volumenya besar, karena kurang lebih 80% dari air yang digunakan bagi kegiatan manusia sehari-hari tersebut dibuang lagi dalam bentuk yang sudah kotor (tercemar). Selanjutnya air limbah ini akhirnya akan mengalir ke sungai dan laut dan akan digunakan oleh manusia lagi. Oleh sebab itu, air buangan ini harus dikelola atau diolah secara baik.

Air limbah ini berasal dari berbagai sumber, dapat dikelompokkan menjadi :
                           Air buangan yang bersumber dari rumah tangga (domestic wastes water), yaitu air limbah yang berasal dari pemukiman penduduk. Pada umumnya air limbah ini terdiri dari ekstreta (tinja dan air seni), air bekas cucian dapur dan kamar mandi, dan pada umumnya terdiri dari bahan organic.
               Air buangan industri (industrial wastes water), yang berasal dari berbagai jenis industri akibat proses produksi. Zat-zat yang terkandung di dalamnya sangat bervariasi sesuai dengan bahan baku yang dipakai oleh masing-masing industri, antara lain : zat pewarna, mineral, nitrogen, sulfide, amoniak, lemak, garam-garam, logam berat, zat pelarut, dan sebagainya. Oleh sebab itu, pengolahan jenis air limbah ini, agar tidak menimbulkan polusi lingkungan menjadi lebih rumit.
Air buangan kotapraja (municipal wastes water), yaitu air buangan yang berasal dari daerah : perkantoran, perdagangan, hotel, restoran, tempat-tempat umum, tempat-tempat ibadah, dan sebagainya. Pada umumnya zat-zat yang terkandung dalam jenis air limbah ini sama dengan air limbah rumah tangga.

a.    Karakteristik Air Limbah
Karakteristik air limbah perlu dikenal, karena hal ini akan menentukan cara pengolahan yang tepat. Sehingga tidak mencemari lingkungan hidup. Secara garis besar karakteristik air limbah ini digolongkan sebagai berikut :
   1.         Karakteristik Fisik
Sebagian besar terdiri dari air dan sebagian kecil terdiri dari bahan-bahan padat dan suspensi. Terutama air limbah rumah tangga, biasanya berwarna suram seperti larutan sabun, sedikt berbau. Kadang-kadang mengandung sisa-sisa kertas, berwarna bekas cucian beras dan sayur, bagian-bagian tinja, dan sebagainya.
2.         Karakteristik Kimiawi
Biasanya air buangan ini mengandung campuran zat-zat kimia an-organik yang berasal dari air bersih serta bermacam-macam zat organic berasal dari penguraian tinja, urine, dan sampah-sampah lainnya. Oleh sebab itu, pada umumnya bersifat basah pada waktu masih baru, dan cenderung ke asam apabila sudah mulai membusuk. Substansi organic dalam air buangan terdiri dari 2 gabungan, yaitu :
    3.          Karakteristik Bakteriologis
Kandungan bakteri pathogen serta organisme coli terdapat juga dalam air limbah, tergantung dari mana sumbernya, namun keduanya tidak berperan dalam proses pengolahan air buangan.

b.    Cara Pengolahan Air Limbah secara Sederhana
 Pengolahan air limbah dimaksudkan untuk melindungi lingkungan hidup terhadap pencemaran air limbah tersebut. Secara ilmiah sebenarnya lingkungan mempunyai daya dukung yang cukup besar terhadap gangguan yang timbul karena pencemaran air limbah tersebut. Namun demikian, alam tersebut mempunyai kemampuan yang terbatas dalam daya dukungnya, sehingga air limbah perlu diolah sebelum dibuang.
Beberapa cara sederhana pengolahan air limbah antara lain :
  1.          Pengenceran (Dilution)
Air limbah diencerkan sampai mencapai konsentrasi yang cukup rendah, kemudian baru dibuang ke badan-badan air. Tetapi, dengan makin bertambahnya penduduk, yang berarti makin meningkatnya kegiatan manusia, maka jumlah air limbah yang harus dibuang terlalu banyak, dan diperlukan air pengebceran terlalu banyak pula, maka cara ini tidak dapat dipertahankan lagi. Di samping itu, ini menimbulkan kerugian lain, di antaranya : bahaya kontamonasi terhadap badan-badan air masih tetap ada, pengendapan yang akhirnya menimbulkan pendangkalan terhadap badan-badan air, seperti : selokan, sungai, danau. Selanjutnya dapat menimbulkan banjir.
   2.         Kolam Oksidasi (Oxidation Ponds)
Pada prinsipnya pengolahan ini adalah pemanfaatan sinar matahari, ganggang (algae), bakteri dan oksigan dalam proses pembersihan alamiah. Air limbah di\alirkna ke dalam kolam besar berbentuk segi empat dengan kedalaman antara 1 – 2 m. dinding dan dasar kolam tidak perlu diberi lapisan apapun. Lokasi kolam harus jauh dari daerah pemukiman, dan di daerah yang terbuka, sehingga memungkinkan sirkulasi angin dengan baik. 

D.       PENGELOLAAN SAMPAH
Sampah erat kaitanya dengan kesehatan masyarakat, karena dari sampah-sampah tersebut akan hidup berbagai mikro organisme penyebab penyakit (bacteri pathogen), dan juga binatang serangga sebagai pemindah/penyebar penyakit (vector). Oleh sebab itu, sampah harus dikelola dengan baik sampai sekecil mungkin tidak mengganggu atau mengancam kesehatan masyarakat. Pengelolaan sampah yang baik, bukan saja untuk kepentingan kesehatan saja, tetapi juga untuk keindahan lingkungan. Yang dimaksud dengan pengelolaan sampah di sini adalah meliputi pengumpulan, pengangkutan, sampai dengan pemusnahan atau pengolahan sampah sedemikian rupa sehingga sampah tidak menjadi gangguan kesehatan masyarakat dan lingkungan hidup.

Pengelolaan sampah didefinisikan sebagai kontrol terhadap timbulan sampah, pewadahan, pengumpulan, pemindahan dan pengangkutan, proses pembuangan akhir sampah, di mana semua hal tersebut dikaitkan dengan prinsip – prinsip terbaik untuk kesehatan, ekonomi, keteknikan/ engineering, konservasi, estetika, lingkungan, juga terhadap sikap masyarakat

SHIP (Sistemik, Holistik, Interdisipliner, Holistik)

SHIP berarti bahwa setiap pemecahan masalah dianalisa dengan cara bersistem, melibatkan berbagai sistem yang terkait secara bersama – sama atau holistik, memanfaatkan berbagai ilmu/ disiplin yang terlibat dan harus ada partisipasi sejak fase perencanaan dari seluruh stakeholder yang ada.
Eksplorasi kondisi eksisting manajemen/ pengelolaan sampah harus mencakup keseluruhan aspek yang ada, karena manajemen/ pengelolaan sampah yang ada saat ini hanya dipahami secara parsial, yaitu sebatas urusan memindahkan, membuang, memusnahkan, dan belum mengoptimalkan potensi daur ulang sampah, sehingga akhirnya dapat mengakibatkan hilangnya jaminan keselamatan serta keamanan hidup manusia diberbagai daerah. Eksplorasi kondisi eksisting disini merupakan bagian yang sangat vital, karena akan menjadi dasar dalam merancang manajemen/ pengelolaan sampah yang sesuai dengan kondisi di lapangan.
Cara-cara pengelolaan sampah antara lain sebagai berikut :
1.    Pengumpulan dan Pengangkutan Sampah
Pengumpulan sampah adalah menjadi tanggung jawab dari masing-masing rumah tangga atau institusi yang menghasilkan sampah. Oleh sebab itu, mereka ini harus membangun dan mengadakan tempat khusus untuk mengumpulkan sampah. Kemudian dari masing-masing tempat pengumpulan sampah tersebut harus diangkut ke Tempat Penampungan Sementara (TPS) sampah, dan selanjutnya ke Tempat Penampungan Akhir (TPA). Mekanisme, sistem atau cara pengangkutannya untuk daerah perkotaan adalah tanggung jawab pemerintah daerah setempat, yang didukung oleh partisipasi masyarakat produksi sampah, khususnya dalam hal pendanaan.

Sedangkan untuk daerah pedesaan pada umumnya sampah dapat dikelola oleh masing-masing keluarg, tanpa memerlukan TPS maupun TPA. Sampah rumah tangga daerah pedesaan umumnya didaur ulang menjadi pupuk.

2.  Pemusnahan dan Pengolahan Sampah
Pemusnahan atau pengolahan sampah padat dilakukan melalui berbagai cara, antara lain :
a.    Ditanam (Landfill)
yaitu pemusnahan sampah dengan membuat lubang di tanah kemudian sampah dimasukkan dan ditimbun dengan tanah.            Prinsip dari sanitary Landfill (pengurugan tanah dengan sampah secara sehat) ialah sampah yang telah ditimbun kemudian segera diurug dengan lapisan tanah yang padat setebal 30 cm. Tanah urug betul-betul padat dan minimum tebal 30 cm agar tempayak tak dapat menembus lapisan tanah urug.
b.  Dibakar (Inceneration)
yaitu memusnahkan sampah dengan cara dibakar di dalam tungku pembakaran (incinerator). Pelaksanaan metode ini harus diusahakan sejauh mungkin dari pemukiman  demi menghindari pencemaran udara. Hasil dari pembakaran ini menghasilkan dioksin, yaitu ratusan jenis kimia berbahaya  seperti CDF ( chlorined dibenzo furan ), CDD ( chlorined dibenzo-p-dioxin ) dan PCB ( poly chlorinated byphenil) . Jika senyawa ini tidak dapat terurai maka akan terhirup oleh makhluk hidup dan akan mengendap dalam tubuh , yang pada kadar tertentu akan mengakibatkan kanker.
c.    Dijadikan pupuk (Composting)
Yaitu pengolahan sampah menjadi pupuk (kompos), khususnya untuk sampah organic daun-daunan, sisa makanan dan sampah lain yang mudah membusuk. Di daerah pedesaan hal ini sudah biasa dilakukan, sedangkan di daerah perkotaan hal ini perlu dibudayakan. Apabila setiap rumah tangga dibiasakan untuk memisahkan sampah organic dengan an-organik, kemudian sampah organic diolah menjafi pupuk tanaman, dapat dijual dan dipakai sendiri.

Sedangkan untuk sampah an-organik dapat dibuang dan akan segera dipungut oleh para pemulung. Dengan demikian maka masalan sampah akan berkurang.

Penanganan sampah adalah bukan semata - mata tugas pemerintah. Jadi pengelolaan sampah harus  ditangani ke pendekatan sumber sampah tersebut diatas. Pendekatan secara umum bisa dilakukan dengan prinsip 4 R yang bisa diterapkan dalam keseharian di lingkup terkecil, yakni :

E.       SAMPAH DAN HUBUNGANNYA DENGAN KESEHATAN
1.    Pekerja-pekerja sampah
Perbandingan kesehatan dan kematian antara pekerja-pekerja yang bergumul dengan smpah den pekerja-pekerja lainnya adalah sama. Jadi, secara langsung sampah tidak membahayakan kesehatan jasmaniah.
2.    Keindahan
Bila di sekitar kita ada timbunan sampah apalagi yang sudah lama tertimbun, maka keindahan di tempat tersebut akan lenyap dan rasa tak sedap dipandang oleh mata. Karena iru janganlah ada timbunan sampah. Sampah yang lama tertimbun mengeluarkan gas racun dan bau busuk. Mungkin banyak sisa-sisa daging dan ini membahayakan lingkungan.
3.    Lalat dan Tikus, serta Binatang-Binatang lainnya
Di tempat sampah akan terdapat banyak lalat, selain mencari makan, lalat ini akan bertelur pula. Kita ketahui lalat adalah salah satu vekor penyebar penyakit-penyakit perut. Tikus gemar sekali bersarang di tempat-tempat timbunan sampah, apalagi sampah yang tak pernah diangkut. Tikus juga mencari makan di tempat sampah dan sekaligus tikus penyebar penyakit Pes. Ayam, kucing, anjing, dan lain-lain, kerap mendatangi tempat sampah untuk mencari makan. Sampah jadi berserakan yang dapat memuakkan pandangan.
                                                           BAB III
PEMBAHASAN

3.1     Cara Mengurangi Pencemaran Lingkungan di Tempat Wisata Alam
          Masalah Sampah ditempat wiasata alam terutama dalam pendakian menjadi alasan klasik yang sulit diatasi. Jumlah pendaki yang semakin meningkat justru menambah jumlah sampah yang berada digunung. Sampah yang dihasilkan oleh pendaki rata-rata adalah sampah non organik atau sampah plastik yang sulit di urai oleh tanah contoh salah satu contoh gunung yang mulai terkena pencemaran oleh sampah adalah semeru tepatnya di danau ranukumbolo, banyak sampah yang ditinggalkan berserakan dimana bahkan ada yang membuangnya di sumber mata air danau ranukumbolo, tidak saja membuang sampah tapi banyak pendaki yang menggunakan danau ranu kumbolo sebagai tempat MCK tentu saja fenomena itu tidak dianjurkan sama sekali karena ranu kumbolo merupakan sumber air minum untuk para pendaki terutama satwa liar yang ada di semeru, bayangkan apa yang akan terjadi apabila danau ranu kumbolo sudah tercemar oleh sampah dan limbah. Data balai taman nasional bromo tengger semeru menunjukan setiap pengunjung membuang sekitar 0,5 kg sampah di gunung semeru, padahal setiap hari gunung semeru dikunjungi 200 hingga 500 pendaki. Artinya di gunung semeru ada sekitar 250 kg sampah per hari menurut humas balai besar taman nasional bromo tengger semeru.
Beberapa solusi pernah diluncurkan untuk mengatasi permasalah sampah tersebut. Diantaranya adalah mengecek perbekalan tim sebelum mendaki kemudian memeriksanya kembali ketika turun namun cara ini tidak efektif karena kurangnya pegawai pemeriksaan di taman nasional yang tidak sebanding dengan jumlah pendaki yang melakukan pendakian.
            Kedua membatasi kuota pendakian setiap gunung setiap harinya, cara ini sedikit efektif namun tetap saja masih banyak sampah yang berserakan di area pendakian karena kurangnya pengawasan dari petugas taman nasional. Kuota pendakian juga masih terlalu banyak lebih dari anggka 100 pendaki perharinya, belum lagi ada pendaki liar yang membuka jalur pendakian sendiri .
            Membuat tempat sampah yang berada disetiap jalur pendakian, namun cara ini tidak efektif karena tempat sampah yang ada tidak cukup menampung sampah pendaki tentunya malah membuat pendaki membuang sampah diatas gunung. serta minimnya petugas taman nasional yang mengangkut sampah pendaki.
Menurut saya sendiri seharusnya setiap pendakian harus di dampingi oleh guide atau porter yang berpengalaman yang disediakan oleh taman nasional, guide atau porter ini selain membantu untuk penunjuk jalan dan membawa perbekalan pendaki tetapi berguna juga untuk mengontrol dan mengawasi setiap sampah yang dihasilkan oleh pendaki terutama untuk pendakian massal.
            Menaikan biaya simaksi pendakian, memang pendakian gunung-gunung di Indonesia ini terbilang sangat murah kecuali untuk pendakian cartenz pyramid yang membutuhkan peralatan yang berbeda. Mendaki gunung menjadi alternative liburan bagi wisatawan ketika hari libur telah tiba.
            Terpenting adalah tanggung jawab akan sampah yang dibawanya dan sadar untuk tidak membuang sampah dimanapun berada, karena yang harus membawa sampah turun dari gunung adalah mereka yang membawanya naik. Tanpa sadar akan tanggung jawab saya rasa apapun langkah yang dilakukan untuk mengurangi pencemaran lingkungan karena sampah adalah mustahil.
           

DAFTAR PUSTAKA

Soekidjo Notoatmodjo, Prof. Dr : Ilmu Kesehatan Masyarakat dan Prinsip-Prinsip Dasar, PT. Rineka Cipta, Jakarta, 1997.

Daroyni, S. Longsornya TPA Bantar Gebang, Buruknya Manajemen Sampah, DKI Jakarta, Rakyat Selalu Dikorbankan, 2006 .         http://www..walhi.or.id/kampanye/cemar/sampah/060908_smph-dki-jkt_sp/

Trihadiningrum, Y. dkk, Program Pelatihan Sistem Pengelolaan Sampah. Makalah Pelatihan. Jurusan Teknik Lingkungan ITS. Surabaya. 2002.

Sabtu, 23 Januari 2016

Tugas 3

BAB II
STUDI PUSTAKA


2.1              Definisi Kualitas
                        Kualitas adalah derajat atau tingkat dimana produk atau jasa tersebut mampu memuaskan keinginan dari konsumen. Faktor utama yang menentukan kinerja suatu perusahaan adalah kualitas barang atau jasa yang dihasilkan. Produk dan jasa yang berkualitas adalah produk dan jasa yang sesuai dengan apa yang diinginkan konsumennya. Kualitas produk atau jasa akan dapat diwujudkan apabila orientasi seluruh kegiantan perusahaan atau organisasi tersebut berorientasi pada kepuasan pelanggan. Kualitas pada industri manufaktur selain menekankan pada produk yang dihasilkan, juga perlu diperhatikan kualitas pada proses produksi. Kegiatan pengendalian kualitas pun tidak hanya meliputi penetapan standar produk atau proses dari pihak produsen, melainkan standar yang ditetapkan produsen harus sesuai dengan spesifikasi yang ditetapkan dan diharapkan oleh konsumen (Ariani, 2003).
Kualitas menjadi faktor dasar keputusan konsumen untuk mendapatkan suatu produk, karena konsumen akan memutuskan untuk membeli suatu produk dari perusahaan tertentu yang lebih berkualitas dari pada saingan-sainganya. Alasan-alasan mendasar pentingnya kualitas sebagai strategi bisnis adalah sebagai berikut (Purnomo, 2004):
1.        Meningkatkan kesadaran konsumen akan kualitas dan orientasi konsumen yang kuat akan penampilan kualitas.
2.        Kemampuan produk.
3.        Peningkatan tekanan biaya pada tenaga kerja,energi dan bahan baku.
4.        Persaingan yang semakin intensif.
5.        Kemajuan yang luar biasa dalam produktivitas melalui program keteknikkan kualitas yang efektif.


2.2              Faktor yang Mempengaruhi Mutu
Ada faktor-faktor yang mempengaruhi mutu suatu barang. Menurut Assauri (2008), mutu ditentukan oleh beberapa faktor, yaitu (Assauri, 2008):
1.      Fungsi suatu barang
Suatu barang yang dihasilkan hendaknya memerhatikan fungsi untuk apa barang tersebut digunakan atau dimaksudkan, sehingga barang-barang yang dihasilkan harus dapat benar-benar memenuhi fungsi tersebut.
2.      Wujud Luar
Salah satu faktor yang penting dan sering digunakan olah konsumen dalam melihat suatu barang pertama kalinya, untuk menentukan mutu barang tersebut adalah wujud luar barang itu.
3.      Biaya barang tersebut
Umumnya biaya dan harga suatu barang akan dapat menentukan mutu barang tersebut. Hal ini terlihat dari barang-barang yang mempunyai biaya mahal, dapat menunjukkan bahwa mutu barang tersebut relatif baik.

2.3              Dimensi Kualitas
            Dimensi ini digunakan untuk melihat dari sisi manakah kualitas akan dinilai. Ada beberapa dimensi kualitas untuk industri manufaktur dan jasa. Berikut akan dijelaskan pada tabel dibawah ini (Ariani, 2003).





Tabel 2.1 Dimensi Kualitas
Dimensi
Keterangan
Performance
kesesuaian produk dengan fungsi utama produk sendiri atau karakteristik operasi dari suatu produk.
Feature
ciri khas produk yang membedakan dari produk lain yang merupakan karakteristik pelengkap dan mampu menimbulkan kesan yang baik bagi pelanggan.
Reability
kepercayaan pelanggan terhadap produk karena kehandalannya atau karena kemungkinan kerusakan yang rendah.
Conformance
yaitu kesesuaian produk dengan syarat atau ukuran tertentu atau sejauh mana karakteristik desain dan operasi memenuhi standar yang telah ditetapkan.
Durability
tingkat ketahanan produk atau lama umur produk.
Serviceability
kemudahan produk itu bila akan diperbaiki atau kemudahan memperoleh komponen produk tersebut.
Aesthetic
yaitu keindahan atau daya tarik produk tersebut.
Perception
fanatisme konsumen akan merek suatu produk tertentu karena citra atau reputasi produk itu sendiri.

2.4                Pengendalian Kualitas
Pengendalian kualitas adalah upaya dalam menjaga kualitas dari produk yang dihasilkan agar sesuai dengan spesifikasi produk yang telah ditetapkan berdasarkan kebijakan perusahaan. tujuan pengendalian kualitas adalah supaya produk dapat berfungsi sesuai dengan apa yang diinginkan yang nantinya akan memberikan kepuasan konsumen, untuk mengetahui apakah segala sesuatunya berjalan sesuai dengan rencana yang ada, dan untuk mengetahui telah dijalankan secara efisien atau belum dan apakah mungkin didalam perbaikan (Assauri, 2008).
Pengendalian kualitas memerlukan pengertian dan perlu dilaksanakan oleh perancang, bagian inspeksi, bagian produksi sampai pendistribusian produk ke konsumen. Aktivitas pengendalian kualitas pada umumnya meliputi kegiatan-kegiatan berikut (Purnomo, 2004):
1.    Pengamatan terhadap performansi produk atau proses.
2.    Membandingkan performansi yang ditampilkan dengan standar yang berlaku.
3.    Mengambil tindakan-tindakan bila terdapat penyimpangan-penyimpangan yang cukup signifikan, dan jika perlu perlu dibuat tindakan-tindakan untuk mengoreksinya.
Pengendalian kualitas proses statistik (statistical process control) merupakan teknik  penyelesaian  masalah  yang  digunakan  sebagai  pemonitor,  pengendali, penganalsis, pengelola, dan memperbaiki proses menggunakan metode-metode statistik. Pengendalian proses statistik merupakan penerapan metode-metode statistik untuk pengukuran dan analisis variasi proses. Konsep terpenting dalam pengendalian proses statistik adalah pengendalian variasi proses, yang terdiri dari variasi umum dan variasi khusus, dengan menggunakan alat yang disebut peta kendali (control chart) (Ariani, 2003).
Pengendalian kualitas statistik merupakan alat manajemen secara ilmiah. Beberapa keuntungan jika digunakan pengendalian kualitas statistik adalah sebagai berikut (Purnomo, 2004).
1.    Perbandingan antara kualitas dan biaya
Dalam suatu bisnis perusahaan akan selalu berhubungan dengan persaingan. Salah satu cara untuk dapat memenangkan persaingan adalah mempertinggi mutu atau memperendah biaya, bahkan bila mungkin mempertinggi mutu diikuti dengan penurunan biaya. Pengendalian kualitas statistik menyajikan teknik untuk lebih mengerti akan adanya variasi dalam karakteristik kualitas dan menolong untuk secara langsung atau tidak langsung memperbaiki kualitas atau menurunkan biaya.
2.    Menjaga kualitas lebih seragam
Suatu proses produksi tidak akan dapat memproduksi yang persis sama dari barang yang dibuat, penyimpangan kualitas bagaimanapun kecilnya pasti terjadi. Selama variasi kualitas tidak menunjukkan gejala yang besar, maka proses produksi dikatakan cukup terkontrol secara statistik, atau dapat dikatakan produksi tidak dapat menunjukkan banyak variasi kualitas (uniform/seragam). Pengendalian kualitas akan menjaga keseragaman tersebut.
3.    Penyediaan bahan baku yang lebih baik
Pengendalian kualitas statistik akan membantu manajemen untuk menentukan penilaian sumber bahan baku. Penilaian sumber bahan baku ini akan sangat menentukan apabila biaya produksi sangat dipengaruhi oleh sumber bahan baku.



4.    Penggunaan alat produksi yang lebih efisien
Dalam suatu proses produksi sering digunakan beberapa mesin untuk memproduksi barang. Jika digunakan peta kontrol untuk setiap mesin, maka akan diketahui kondisi mesin tersebut apakah perlu diperbaiki atau tidak.
5.    Mengurangi kerja ulang atau pembuangan
Pengendalian kualitas statistik akan membantu proses supaya dapat berjalan lancar sesuai standar. Dengan demikian, barang yang diproduksi tidak banyak yang cacat dan sesuai dengan standar yang diharapkan
6.    Memperbaiki hubungan produsen – konsumen
Banyak industri pada saat ini menggunakan bahan baku dari hasil proses produksi industri lain. Bila terjadi hubungan demikian, maka hasil produksi industri yang akan menjadi masukan industri lain akan sangat mempengaruhi kualitas produksi. Apabila input, dalam hal ini hasil produk industri sebelumnya jelek maka produk yang dibuat oleh industri berikutnya akan cenderung jelek. Begitu sebaliknya jika input baik, maka industri berikutnya akan dengan mudah memproduksi barang yang baik. Dengan demikian, akan meningkatkan hubungan antara produsen dan konsumen
                                       








BAB III
METODOLOGI


3.1              Tata Laksana Kerja Praktek
3.1.1    Prosedur Kerja Praktek
Kerja praktek yang akan dilakukan memiliki beberapa prosedur yang bertujuan untuk mengetahui tahapan-tahapan kerja praktek. Berikut ini adalah tahapan prosedur kerja praktek yang akan dilakukan.
1.        Pelaksanaan kerja praktek dibagi kedalam beberapa tahapan kegiatan, yaitu sebagai berikut:
a.       Pengarahan pelaksanaan kerja praktek oleh dosen pembimbing.
b.      Pelaksanaan kegiatan kerja praktek di lapangan.
c.       Pembuatan laporan kerja praktek beserta bimbingan.
2.        Pihak perusahaan memiliki wewenang penuh kepada mahasiswa untuk memberikan  pendidikan berupa pengetahuan aplikatif di dalam perusahaan pada proses pelaksanaan kerja praktek.
3.        Apabila kerja praktek di lapangan telah selesai, mahasiwa wajib membuat laporan kerja praktek yang dibimbing oleh dosen pembimng.

3.1.2    Lokasi dan Waktu Kerja Praktek
Kegiatan kerja praktek ini akan dilakukan pada bulan Februari 2016. Lokasi kerja praktek yang akan dilaksanakan adalah di PT Krakatau Steel (persero) Tbk Main Office Jl. Industri No.5 P.O Box 14. Cilegon Banten 42435. Indonesia.
3.1.3        Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang digunakan pada kerja praktek ini adalah sebagai berikut:

1.        Studi Lapangan
Studi lapangan yang dilakukan pada kerja praktek ini meliputi pengamatan, peninjauan dan mempelajari langsung proses produksi aluminium yang dihasilkan oleh PT Krakatau Steel (persero) Tbk Main Office Jl. Industri No.5 P.O Box 14. Cilegon Banten 42435. Indonesia.
Penulisan ilmiah ini tentunya membutuhkan data-data dari PT Krakatau Steel. Data yang dibutuhkan antara lain:
a.       Profil tentang PT Krakatau Steel.
b.      Proses produksi.
c.       Banyaknya produk yang dihasilkan dalam tiap bulan.
d.      Kendala yang terjadi dalam proses produksi.
e.       Pengendalian kualitas yang diterapkan PT Krakatau Steel.
f.       Jenis Prodak yang di produksi.
2.        Studi Pustaka
Studi pustaka yang dilakukan meliputi pengumpulan berbagai macam referensi dari buku dan sumber-sumber lainnya mengenai tema yang diambil.
           
3.2       Metode Pengolahan Data
            Metode pengolahan data dijelaskan kedalam bentuk diagram alir yang tersusun secara sistematis. Diagram alir pengolahan data menjelaskan tentang proses atau tahapan pengolahan mengenai keperluan laporan yang bersifat sistematis dan terencana. Berikut ini adalah tahapan pengolahan data.

Gambar 3.1 Diagram Alir Metode Pengolahan Data

3.3       Jadwal Kegiatan Kerja Praktek
            Kerja praktek yang dilakukan di PT Krakatau Steel dilakukan dalam kurun waktu satu bulan yang akan dilaksanakan pada bulan Februari 2016. Adapun jadwal kegiatan kerja praktek yang dibuat pada Tabel 3.1 dibawah ini.
Tabel 3.1 Jadual Kegiatan Kerja Praktek
Kegiatan
Februari
M I
M II
M III
M IV
1.      Persiapan ke lapangan, pengenalan dengan staf dan karyawan, serta pengenalan lingkungan pabrik.




2.       Mempelajari gambaran umum perusahaan.




3.       Wawancara dan konsultasi dengan pihak terkait




4.       Mempelajari proses produksi dan melakukan pengumpulan data terkait




5.       Mempelajari pengendalian kualitas dan melakukan pengumpulan data terkait




6.       Menyusun penelitian yang telah dilakukan.





            DAFTAR PUSTAKA


Ariani, Dorothea Wahyu. 2003. Pengendalian Kualitas Statistik. Yogyakarta: Andi. Chodariyanti.
Assauri, Sofjan. 2008. Manajemen Produksi. Edisi Revisi.  Jakarta: FE UI.
Montgomery, Douglas C. 2001. Introduction to Statistical Quality Control 4th Edition. New York: John Wiley & Sons, Inc.
 Purnomo, Hari. 2004. Pengantar Teknik Industri. Yogyakarta: Graha Ilmu.